Karaoke sering berkonotasi negatif. Menjadi tempat maksiat terselubung, wanita pemandu lagu (PL) bisa "dipake", dan tempat yang aman buat mabuk-mabukan. Namun pada dasarnya sarana hiburan karaoke adalah untuk menyalurkan bakat menyanyi dan menghilangkan stres. Kalau kemudian fungsinya berubah menjadi room buat menyalurkan hasrat biologis, siapa yang salah coba? Pengelola, PL-nya yang berbaju minim, atau tamunya yang kebanyakan uang sehingga bisa membeli segalanya?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





No comments:
Post a Comment